Hidup Bagi Kemuliaan Allah

Oleh: Fransiska Seanny
Senin, 15 Agustus 2011

Hidup bagi Kemuliaan AllahSeluruh alam semesta dirancang bagi kemuliaan Allah. Karena itu, tak ada satu bagian pun dari alam semesta ini yang tidak menyatakan kemuliaan Allah. Semuanya memancarkan kemuliaan Allah. Dalam Mazmur 19:2 Raja Daud berkata:

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.

Alam semesta merupakan benda mati. Karena itu, ia tidak dapat memilih untuk tidak memuliakan Allah. Akan tetapi, manusia adalah makhluk hidup yang diciptakan dan diperlengkapi dengan kehendak bebas. Manusia dapat memilih untuk hidup memuliakan Allah atau tidak. Sayangnya, Adam dan Hawa sebagai manusia pertama telah memilih untuk tidak taat kepada Allah dan dengan demikian juga tidak memuliakan Allah.

Selanjutnya, manusia yang telah jatuh dalam dosa hidup semakin jauh dari Allah. Mereka berada di bawah kuasa dosa dan tidak lagi memuliakan Allah. Bukannya menyembah Allah yang mulia dan kekal, mereka justru menyembah benda-benda ciptaan yang mati dan bersifat fana.

Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. (Rom 1:21-23)

Namun sekarang, setelah kita mengenal Kristus dan diselamatkan, kita bebas dari dosa yang memperbudak kita. Karena itu, janganlah kita hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Marilah kita hidup seturut kehendak Allah dan memuliakan Dia.

Mengapa kita harus memuliakan Allah? Pertama, karena Allah adalah satu-satunya pribadi yang layak menerima segala kemuliaan. Dialah pencipta segala yang ada di dunia ini. Segala sesuatu berasal dari Dia dan berada dalam kuasa kedaulatan-Nya. Semua itu membuat-Nya berhak menerima segala bentuk pengagungan dan penyembahan kita.

Allah juga layak dimuliakan karena hikmat kebijaksanaan-Nya yang luar biasa. Hikmat Allah itu nampak dalam cara-Nya mengatur dan memelihara seluruh ciptaan. Hikmat-Nya juga nampak dalam rencana dan karya keselamatan yang dibuat dan dikerjakan-Nya. Setelah menguraikan masalah dosa manusia dan karya keselamatan yang Allah kerjakan secara panjang lebar dalam Roma 1-11, rasul Paulus mengungkapkan kekaguman dan pujiannya kepada Allah:

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rom 11:33-36)

Bukan hanya itu saja. Allah layak dimuliakan karena rencana agung keselamatan yang telah dibuat-Nya sejak dari kekekalan. Dia layak dimuliakan karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita hingga Dia rela menyerahkan Putra-Nya yang tunggal untuk mati menebus kita. Dia layak dimuliakan karena belas kasihan dan pengampunan yang diberikan-Nya kepada kita. Singkatnya, Dia layak dimuliakan karena segala sifat-Nya dan segala karya-Nya yang mengagumkan.

Selain itu, kita harus memuliakan Allah karena untuk itulah kita diciptakan. Firman Tuhan dalam Yesaya 43:7 dengan jelas menyatakan hal ini:

Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!

Suatu benda barulah bermanfaat bila digunakan sesuai dengan maksud pembuatnya. Hal yang sama juga berlaku atas kita. Hidup kita barulah bermakna bila kita menjalaninya sesuai dengan maksud pencipta kita. Karena itu, penting bagi kita untuk senantiasa hidup sesuai dengan maksud Allah atas kita, yaitu untuk memuliakan Dia selama-lamanya.

Lebih lanjut, Allah adalah pemilik seluruh hidup kita. Dialah yang menciptakan kita. Dia pulalah yang menebus kita dari perbudakan dosa. Dia telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar. Karena itu, Dia berhak menerima segala bentuk pengabdian dan penyembahan kita kepada-Nya. Atau dengan kata lain, kita memiliki tanggung jawab untuk senantiasa hidup memuliakan Allah.

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Kor 6:20)

Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Kor 10:31)

Demikianlah, sebagai umat Allah kita harus senantiasa hidup seturut kehendak-Nya dan bagi kemuliaan-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik hal besar maupun hal kecil, haruslah kita lakukan demi kemuliaan Allah.

Hal yang sama juga berlaku saat kita mengerjakan tugas pelayanan kita. Kemuliaan Allah harus senantiasa menjadi tujuan utama pelayanan kita.

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin. (1 Ptr 4:10-11)

Allah memberikan segala karunia rohani kepada kita agar kita dapat mengerjakan tugas pelayanan kita dengan baik demi kemuliaan-Nya. Karena itu, janganlah kita menggunakan karunia-karunia itu untuk mencari kemuliaan diri kita sendiri. Sebaliknya, marilah kita mempergunakan karunia-karunia itu untuk melayani sesama kita dan memuliakan Allah.

Akhirnya, marilah kita hidup dalam ketundukan penuh kepada Allah. Marilah kita menjadikan kemuliaan Allah sebagai tujuan utama hidup kita. Marilah kita mengikuti teladan Tuhan Yesus Kristus dalam pelayanan-Nya di muka bumi ini sampai kita dapat berkata seperti Dia:

Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. (Yoh 17:4)

Facebook Twitter

Kategori: Kehidupan Kristen

Social Media

Menu

Kategori