Murid Sejati: Melepaskan Segala SesuatuBila kita mau menjadi murid Kristus, kita harus mengasihi Yesus lebih dari apapun, rela menyangkali kehendak kita sendiri demi melaksanakan kehendak Allah, dan siap menanggung segala penderitaan, penganiayaan, dan bahkan kematian demi kebenaran Injil. Kita telah membahas semua syarat itu dalam artikel-artikel sebelumnya. Walaupun demikian, masih ada satu syarat lagi yang diajukan Yesus bagi setiap orang yang mau menjadi murid-Nya. Kita akan membahasnya dalam artikel ini.

Dalam Lukas 14:33 Yesus berkata:

Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Untuk menjadi murid Kristus, kita harus melepaskan segala sesuatu yang kita miliki dan menyerahkannya kepada Kristus. Kita harus menyerahkan seluruh hak kepemilikan yang kita punyai kepada-Nya. Inilah syarat ketiga menjadi Murid Kristus.

Ketika kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, maka pada saat yang sama seluruh hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki menjadi milik Kristus. Kata “Tuhan” (Yunani: kyrios) pada dasarnya berarti “seorang yang memiliki kuasa dan wewenang atas segala sesuatu”. Lawan dari kata ini adalah hamba atau budak (Yunani: doulos) yang pada dasarnya berarti “seorang yang tidak memiliki kuasa ataupun wewenang sama sekali, baik atas suatu barang maupun atas hidupnya sendiri”. Artinya, ketika kita menerima dan mengakui Yesus sebagai Tuhan yang memiliki kuasa dan wewenang mutlak atas hidup kita, maka pada saat yang sama kita secara tidak langsung juga mengakui bahwa diri kita adalah budak-Nya yang tidak memiliki hak dan wewenang apapun, baik atas hidup kita maupun atas segala sesuatu yang ada pada kita. Menerima dan mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti melepaskan hak kepemilikan atas segala sesuatu dan menyerahkannya kepada Kristus. Karena itu, orang yang tidak mau melepaskan segala sesuatu yang dimilikinya tidak mungkin dapat menjadi murid Kristus.

Selain itu, dalam Matius 6:24 Yesus berkata:

Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Dalam nas tersebut Yesus mempertentangkan diri-Nya dengan Mamon atau harta kekayaan. Dia menyatakan bahwa tidak mungkin bagi seseorang untuk mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon secara bersamaan. Orang yang mengasihi Allah tentu akan membenci kekayaannya. Orang yang setia kepada Allah tentu tidak akan mempedulikan hartanya. Dengan kata lain, orang yang hendak menghambakan dirinya kepada Allah harus terlebih dahulu melepaskan dirinya dari keterikatan terhadap harta miliknya. Sebelum ia terlepas dari keterikatan terhadap kekayaannya, ia tidak dapat menjadi hamba Allah.

Ingatkah anda akan kisah orang muda yang kaya dalam Matius 19:16-26? Orang muda itu bertanya kepada Yesus mengenai cara memperoleh hidup kekal. Setelah Yesus menyuruhnya menjual seluruh hartanya serta membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin, Matius mencatat bahwa orang muda itupun pergi dengan sedih sebab banyak hartanya. Orang muda itu tidak rela melepaskan seluruh hartanya begitu saja. Dia gagal menjadi murid Kristus karena masih terikat pada hartanya.

Bagaimana dengan anda? Relakah anda melepaskan seluruh hak kepemilikan anda dan menyerahkannya kepada Kristus? Atau anda hendak mengulang kegagalan yang sama dengan kegagalan yang telah diperbuat orang muda yang kaya itu? Selama anda masih terikat pada kekayaan yang anda miliki, anda tidak mungkin dapat menjadi murid Kristus yang sejati.

Facebook Twitter

Kategori: Kehidupan Kristen

Tag: , , , ,