Murid Sejati: Memikul SalibDalam artikel sebelumnya kita telah mempelajari syarat pertama yang diajukan Yesus bagi setiap orang yang mau menjadi murid-Nya, yaitu mengasihi-Nya lebih dari apapun. Sekarang, dalam artikel ini kita akan mempelajari syarat yang kedua. Apakah itu?

Dalam Lukas 14:27 Yesus berkata:

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Yesus dengan tegas mengatakan bahwa untuk menjadi murid-Nya, seseorang harus mau memikul salib. Inilah syarat kedua yang harus kita penuhi bila kita mau menjadi Murid Yesus. Akan tetapi, apakah yang dimaksud dengan “memikul salib”?

Mengalami Kematian Badani

Salib merupakan salah satu bentuk hukuman mati yang biasa diterapkan pada zaman Yesus. Sebelum disalibkan, si terhukum harus memikul salibnya sendiri menuju tempat penyalibannya. Dalam perjalanannya itu tentu saja ia akan mengalami banyak celaan dan aniaya, baik dari masyarakat yang menontonnya maupun dari pasukan yang mengawalnya. Karena itu, “memikul salib” pastilah berbicara mengenai kematian badani dengan segala penderitaan yang menyertainya.

Yesus telah menerima segala celaan, aniaya, dan bahkan kematian pada akhir pelayanan-Nya di bumi 2000 tahun yang lalu. Bila kita menjadi murid-Nya, kita pun akan mengalami hal serupa. Berbagai celaan, hinaan, aniaya, dan ancaman kematian akan kita alami saat kita memberitakan dan menghidupi pengajaran Yesus. Itulah sebabnya Yesus mengajukan syarat kedua, yaitu “memikul salib” yang berbicara mengenai kerelaan menanggung penderitaan dan kematian badani demi kebenaran. Dengan kata lain, bila kita mau menjadi murid Yesus, kita harus siap dan rela menanggung segala penderitaan dan bahkan kematian yang ditimpakan pada kita oleh musuh-musuh Injil.

Dewasa ini ada banyak orang Kristen yang tidak memahami berita Injil secara lengkap. Mereka hanya menangkap sebagian berita Injil, yaitu mengenai berkat-berkat yang akan diterima oleh orang-orang percaya. Bagi mereka Injil identik dengan berkat, mujizat, sorga, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Itupun hanya mereka pahami secara sempit dalam pengertian lahiriah. Mereka tidak menangkap makna sesungguhnya dari janji-janji Injil itu. Mereka juga tidak menangkap sisi lain dari berita Injil yang menyatakan bahwa sebagai murid Kristus mereka harus menanggung resiko penderitaan dan penganiayaan. Akibatnya, ketika berbagai hal buruk terjadi, mereka mulai kecewa, bersungut-sungut, dan akhirnya undur dari Allah.

Tidak seperti banyak orang Kristen dewasa ini yang memahami berita Injil secara setengah-setengah, para rasul memahami seluruh berita Injil secara lengkap. Mereka menyadari bahwa sebagai murid Kristus mereka bukanlah bagian dari dunia ini, sama seperti Kristus bukan bagian dari dunia ini. Karena itu, bila dunia ini membenci Kristus dan menganiaya-Nya, maka dunia ini pun akan membenci dan menganiaya mereka (bd. Yoh 17:14-16). Mereka menyadari segala konsekuensi negatif yang harus mereka alami sebagai murid Yesus. Mereka rela menanggung semua itu. Itulah sebabnya mereka tidak pernah merasa kecewa atau bersungut-sungut kepada Allah atas segala penderitaan yang menimpa mereka. Sebaliknya, mereka justru bersukacita atas penganiayaan yang mereka alami. Mereka bergembira “karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena nama Yesus” (Kis 5:41).

Demikianlah, pemahaman yang lengkap dan menyeluruh akan isi berita Injil telah membuat para rasul berani dan kuat dalam setiap penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami. Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda memiliki pemahaman yang lengkap akan isi berita Injil? Siapkah anda menanggung segala resiko penderitaan dan penganiayaan karena Injil yang anda percaya itu?

Kita patut bersyukur bila kita masih dapat beribadah dengan tenang dan nyaman. Walaupun demikian, kita juga patut merenung dan bertanya: Mengapa kita belum mengalami penganiayaan sebagaimana telah dialami oleh jemaat-jemaat Tuhan di daerah-daerah lain? Jangan-jangan kita belum mengalami penganiayaan semacam itu karena kita dianggap belum layak mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Bila kita dianggap belum layak mengambil bagian dalam penderitaan Kristus, itu berarti kualitas kekristenan kita belum memenuhi standar dan kita belum layak menjadi murid Kristus.

Mengalami Kematian Ego

Selain kematian badani, salib juga memiliki arti kedua. Dalam Lukas 9:23 Yesus berkata:

Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

Bila kita mau menjadi murid Kristus, kita harus memikul salib setiap hari. Setiap hari? Apakah itu berarti kita harus mengalami kematian badani berulang kali setiap hari? Tentu saja bukan itu yang Yesus maksudkan, karena kita tidak mungkin mati berulang kali. Karena itu, salib yang dimaksudkan di sini pasti bukan kematian badani yang hanya terjadi sekali, melainkan suatu jenis kematian lain, yaitu kematian ego yang harus terjadi setiap hari.

Salib (cross) berarti persilangan. Ketika kehendak kita bersilangan dengan kehendak Allah dan kita memilih melakukan kehendak Allah, di situlah salib terjadi. Ketika Allah menghendaki kita mengampuni orang yang berbuat jahat terhadap kita di saat kita hendak membalas dendam terhadapnya, dan kita mengikuti kehendak Allah dengan mengampuni orang tersebut, di situlah salib terjadi. Ketika Allah menghendaki kita menyerahkan seluruh hidup kita untuk melayani Dia sepenuhnya di saat kita hendak mengejar cita-cita kita yang sudah ada di depan mata, dan kita dengan rela meninggalkan cita-cita kita serta menyerahkan hidup kita sepenuhnya untuk melayani Allah, di situlah salib terjadi. Ketika Allah menghendaki kita melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan dan tidak kita sukai, dan kita tetap dengan taat melakukan kehendak Allah, di situlah salib terjadi. Inilah makna kedua dari Salib, yaitu penyangkalan kehendak kita demi mengikuti kehendak Allah.

Yesus telah disalibkan di atas bukit Golgota sebagai penggenapan seluruh karya penebusan. Di atas bukit Golgota Dia mati sebagai korban tebusan bagi banyak orang. Akan tetapi, penyaliban Golgota itu tidak mungkin terjadi bila Ia tidak mengalami penyaliban Getsemani terlebih dahulu. Di bukit Getsemani Dia berdoa:

Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki. (Mat 26:39)

Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu! (Mat 26:42)

Yesus rela mengikuti kehendak Bapa sekalipun itu berat bagi-Nya. Inilah penyaliban pertama yang Dia alami dan yang mengantarkan-Nya pada penyaliban kedua. Tanpa penyaliban Getsemani, penyaliban Golgota tidak mungkin terjadi.

Prinsip yang sama juga berlaku pada kita. Kita tidak mungkin dapat bertahan menanggung penderitaan dan kematian badani demi Kristus bila kita tidak pernah mengalami kematian ego setiap hari terlebih dahulu. Adalah suatu omong kosong belaka bila ada orang yang berkata bahwa dia mau mati bagi Kristus, sedangkan dalam kehidupannya sehari-hari dia tidak pernah menuruti kehendak Allah. Sama seperti penyaliban Getsemani merupakan kunci menuju penyaliban Golgota, demikian pula kematian ego yang terjadi setiap hari merupakan kunci yang memampukan kita menanggung penderitaan dan kematian yang sesungguhnya.

Ketika kehendak anda bersilangan dengan kehendak Allah, apakah yang anda lakukan? Ketika berbagai hal buruk menimpa anda, bagaimana sikap anda? Sudahkah anda memenuhi syarat untuk menjadi murid Kristus?

Facebook Twitter

Kategori: Kehidupan Kristen

Tag: , , ,