Sebagaimana telah dibahas dalam artikel sebelumnya, Yesus memiliki tujuan penginjilan yang jauh berbeda dengan kebanyakan gereja masa kini. Yang Yesus inginkan bukanlah orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti-Nya, melainkan murid sejati yang bersedia menghidupi pengajaran-Nya dan setia kepada-Nya sampai akhir. Karena itu, tidak seperti kebanyakan gereja masa kini yang hanya meminta seseorang mengucapkan doa orang berdosa dan mengaku percaya kepada Yesus untuk menjadi anggota jemaat mereka, Yesus mengajukan syarat-syarat yang sukar bagi mereka yang mau menjadi murid-Nya.

Setidaknya ada 3 (tiga) syarat yang harus kita penuhi bila kita mau menjadi murid Kristus:

  1. Mengasihi Yesus lebih dari apapun (Luk 14:26),
  2. Memikul salib dan mengikut Yesus (Luk 14:27), dan
  3. Melepaskan segala sesuatu dan menyerahkannya kepada Yesus (Luk14:33).

Dalam artikel ini kita akan membahas syarat yang pertama, sedangkan syarat yang kedua dan ketiga akan kita bahas dalam artikel-artikel berikutnya.

Mengasihi Yesus Lebih Dari Apapun

Murid Sejati: Mengasihi YesusDalam Lukas 14:26 Yesus berkata:

Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Orang tua yang normal tentu mengasihi anak-anaknya. Anak yang normal tentu mengasihi orang tuanya. Suami yang normal tentu mengasihi isterinya. Isteri yang normal tentu mengasihi suaminya. Seorang yang normal tentu mengasihi saudaranya dan juga dirinya sendiri. Akan tetapi, Yesus mengatakan bahwa untuk menjadi murid-Nya, seseorang harus membenci semuanya itu. Inilah syarat pertama yang harus kita penuhi bila kita mau menjadi murid Yesus.

Akan tetapi, bukankah Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengasihi sesama kita seperti mengasihi diri kita sendiri? Mengapa dalam nas ini Dia justru mengatakan bahwa untuk menjadi murid-Nya seseorang harus membenci orang-orang yang dikasihinya dan bahkan dirinya sendiri? Apakah yang Dia maksudkan dengan kata “membenci” dalam nas ini?

Untuk memahami hal ini kita perlu membandingkannya dengan ayat lain yang parallel, yaitu Matius 10:37. Dalam ayat tersebut Yesus berkata:

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

Klausa “jikalau seseorang tidak membenci …” yang dipakai dalam Lukas 14:26 dipertukarkan dengan klausa “barangsiapa mengasihi … lebih dari pada-Ku” dalam ayat ini. Artinya, yang dimaksud dengan “membenci” dalam Lukas 14:26 adalah “mengasihi Yesus lebih dari pada yang lain”. Bila kasih kita terhadap seseorang atau sesuatu yang lain melebihi kasih kita terhadap Yesus, kita tidak dapat menjadi murid Yesus. Dengan kata lain, syarat pertama menjadi murid Yesus adalah memberikan kasih kita yang terutama hanya kepada Yesus.

Kesaksian Penginjil Cina

Ada sebuah kisah nyata mengenai seorang penginjil Cina yang dianiaya karena imannya kepada Yesus. Sekalipun ia telah dianiaya begitu rupa, penginjil itu tetap berpegang teguh pada Yesus dan tidak mau menyangkali imannya. Sebagai upaya berikutnya, para polisi yang menganiayanya membawa isteri dan anak-anaknya ke hadapan penginjil itu dan mengancamnya dengan menyatakan bahwa bila ia tetap tidak mau menyangkali imannya, maka isteri dan anak-anaknya akan dianiaya dengan sadis di depan matanya.

Mungkin bagi penginjil itu tidak menjadi masalah bila ia harus mati karena imannya kepada Yesus, tetapi melihat orang-orang yang begitu dikasihinya dianiaya di depan matanya sendiri tentu merupakan sesuatu yang sangat berat dan menyakitkan baginya. Akan tetapi, ia tetap berpegang teguh kepada Yesus sampai akhir hidupnya. Sungguh suatu kesaksian yang luar biasa!

Bagaimana dengan anda? Seandainya anda mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh penginjil itu, apakah yang akan anda lakukan? Seandainya anda diancam bahwa bila anda tidak mau menyangkali iman anda kepada Yesus, maka orang-orang yang begitu anda kasihi akan dianiaya dengan sadis di depan mata anda, apakah yang akan anda perbuat? Apakah anda akan tetap setia pada Yesus? Dalam kondisi seperti itulah kasih anda kepada Yesus akan diuji, apakah anda sungguh-sungguh mengasihi Yesus lebih dari pada yang lain atau tidak.

Teladan Hidup Abraham

Salah seorang tokoh Perjanjian Lama yang dapat menjadi teladan kita dalam hal ini adalah Abraham, bapa semua orang beriman. Abraham telah mengalami berkat Allah yang begitu berkelimpahan dalam hidupnya. Bahkan Allah juga berjanji kepadanya bahwa melalui keturunannya semua bangsa akan mendapat berkat. Ya, Abraham telah diberkati dan menjadi berkat bagi banyak bangsa. Maukah anda memiliki kehidupan seperti Abraham?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu anda ketahui bahwa dalam kehidupannya Abraham tidak hanya menerima berkat Allah yang berkelimpahan, tetapi juga berbagai proses yang sukar dan penuh pengorbanan. Ayahnya, saudaranya, keponakannya, dan segala sesuatu yang berharga dalam hidupnya harus dia tinggalkan demi imannya kepada Allah. Sebagai puncak dari semua ujian itu, Allah meminta Abraham mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal dan yang dikasihinya, sebagai korban bakaran bagi-Nya.

Dalam Kejadian 22:1-3 dikatakan:

Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.” Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

Abraham telah menantikan kelahiran Ishak, anak perjanjian itu, selama bertahun-tahun dan telah mencurahkan seluruh kasihnya kepadanya, tetapi kini Allah memintanya begitu saja. Bila kita menjadi Abraham, mungkin kita akan bersungut-sungut dan berkata kepada Allah: “Engkau sendiri yang menjanjikan dan memberikan anak itu kepadaku, tetapi mengapa kini Engkau hendak mengambilnya kembali? Bila Engkau tidak rela memberikannya kepadaku, engkau tidak perlu menjanjikannya dan memberikannya kepadaku! Aku telah menantikannya bertahun-tahun dan bersusah-payah memeliharanya dengan penuh kasih sayang, tetapi kini engkau mengambilnya begitu saja? Sungguh hal itu tidak adil bagiku!” Tetapi itukah yang dikatakan dan diperbuat Abraham? Tidak! Tidak ada satu ayatpun yang mengindikasikan hal itu.

Sebaliknya, ayat 3 justru menggambarkan ketaatan Abraham yang luar biasa kepada Allah. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa keesokan harinya pagi-pagi Abraham bangun dan bersiap-siap melaksanakan perintah Allah. Bila kita berada pada posisi Abraham, mungkin kita akan menunda melaksanakan perintah itu dengan harapan Allah akan membatalkan permintaan-Nya. Akan tetapi, Abraham tidak berbuat demikian. Abraham tidak menunda-nunda. Pagi-pagi benar dia bangun dan bersiap-siap melaksanakan perintah Allah yang berat itu. Sungguh iman, ketaatan, dan kasih kepada Allah yang luar biasa!

Bila anda ingin memiliki kehidupan yang berkelimpahan seperti Abraham, anda pun harus mau mengalami proses yang sama seperti yang dialami Abraham. Bila anda ingin dipakai oleh Allah menjadi berkat bagi banyak orang seperti Abraham, anda pun harus memiliki iman, ketaatan, dan kasih kepada Allah seperti yang dimiliki Abraham. Memang proses itu berat dan sukar, tetapi proses itu harus anda alami.

Mungkin saat ini anda berkata kepada Allah: “Tuhan, segala sesuatu yang ada padaku boleh Engkau ambil, tetapi yang satu ini jangan Engkau ambil dari padaku.” Akan tetapi, Allah akan berkata kepada anda: “Ya anak-Ku, serahkanlah yang satu itu kepada-Ku.”

Demikianlah, sebagai ujian atas kasih kita kepada-Nya, Allah akan meminta dan mengambil seseorang atau sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita sampai kita dapat berkata seperti pemazmur:

Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mzm 73:25)

Bagaimana sekarang? Sudahkah Yesus menduduki tempat yang paling utama dalam hidup anda? Sudahkah anda mengasihi Yesus lebih dari segala sesuatu yang anda miliki? Sudahkah anda mengingini Yesus lebih dari apapun yang ada di dunia ini?

Facebook Twitter

Kategori: Kehidupan Kristen

Tag: , , ,