Murid Sejati: Tujuan Penginjilan Yesus

Oleh: Paulus Roi
Senin, 24 Januari 2011

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk 14:25-33)

Murid Sejati: Tujuan Penginjilan YesusDewasa ini ada banyak pengajaran yang seolah-olah menyatakan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang mudah dan menyenangkan. Berbagai hal menarik ditawarkan dalam pemberitaan Injil, seperti penyelesaian masalah, kenyamanan hidup, kelimpahan materi, kesembuhan dari penyakit, dan sebagainya. Cara mendapatkannya pun mudah. Seseorang cukup mengucapkan doa orang berdosa dan mengaku percaya kepada Yesus untuk mendapatkan semua itu. Akan tetapi, benarkah itu yang diajarkan dan ditawarkan oleh Yesus bagi orang yang hendak mengikut Dia?

Dalam Lukas 14:25 diceritakan bahwa pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus. Hal ini tidaklah aneh, karena pada masa itu Yesus memang sangat terkenal. Banyak perbuatan ajaib Dia kerjakan. Orang-orang yang menderita berbagai penyakit Dia sembuhkan, bahkan orang matipun Dia bangkitkan. Belum lagi peristiwa lima roti dan dua ikan yang dengannya Dia memberi makan lima ribu orang. Tentu saja hal itu mengundang perhatian banyak orang dan mendorong mereka untuk mengikuti Dia.

Hal yang sama tentu juga akan terjadi pada masa kini bila ada seorang hamba Tuhan yang dapat mengadakan berbagai mujizat seperti yang telah Yesus kerjakan. Dia tentu akan menjadi hamba Tuhan terkenal dan banyak orang akan datang serta mengikuti dia. Nah, seandainya anda menjadi hamba Tuhan itu, bagaimanakah perasaan anda? Bagaimanakah perasaan anda bila banyak orang berbondong-bondong mengikuti anda? Anda tentu akan merasa sangat senang bukan? Akan tetapi, apakah itu juga yang Yesus rasakan? Apakah Dia merasa senang karena banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia? Sepertinya tidak.

Ketika banyak orang berduyun-duyun mengikuti Dia, Yesus justru mengemukakan hal menjadi murid (bd. Luk 14:26,27,33). Dengan mengemukakan hal menjadi murid, Yesus secara tidak langsung berkata kepada orang-orang yang mengikuti-Nya itu: “Engkau berduyun-duyun mengikuti Aku, tetapi Aku tidak menginginkannya. Aku tidak mencari pengikut, melainkan murid.” Ya, yang Yesus cari bukanlah orang-orang yang beramai-ramai mengikuti-Nya, melainkan murid. Orang-orang itu mengikuti Yesus hanya karena mujizat yang dikerjakan-Nya, sedangkan murid mengikuti Yesus karena mereka sungguh-sungguh mau belajar dari pada-Nya.

Dewasa ini banyak orang Kristen sama seperti orang-orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Mereka mengikut Yesus bukan karena mengasihi Yesus atau ingin belajar dari pada-Nya, melainkan karena ingin melihat dan mendapatkan mujizat dari Yesus. Mereka datang kepada Yesus karena ingin mendapatkan kesembuhan, berkat, ataupun penyelesaian masalah-masalah mereka saja. Akibatnya, ketika berkat itu tidak kunjung datang, ketika mujizat itu tidak terjadi, ketika masalah-masalah mereka tidak terselesaikan, mereka mulai undur dari Yesus dan bahkan menghujat-Nya.

Coba renungkan sejenak: Bila suatu saat Yesus tidak memberikan berkat dan mujizat apapun bagi anda, bila masalah-masalah yang anda alami tidak kunjung reda, bila Yesus tidak berkenan mengabulkan doa anda, apakah anda akan tetap setia mengikut Dia? Apakah anda akan tetap mengikut Yesus bila keadaan yang buruk menimpa anda dan Yesus tidak melakukan apapun bagi anda?

Ingatlah, orang-orang yang berbondong-bondong mengikuti Yesus itu pulalah yang nantinya akan berseru: “Salibkan Dia!” Yesus mengetahui hal itu. Itulah sebabnya Dia tidak merasa puas dengan keberadaan mereka serta mengemukakan hal menjadi murid. Dia tidak mencari pengikut, melainkan murid. Seorang murid bukan hanya mengikuti gurunya ke manapun gurunya pergi, tetapi juga meneladani cara hidup gurunya. Seorang murid menghidupi pengajaran gurunya, menyerupai gurunya, dan setia kepada gurunya apapun yang terjadi. Murid yang demikianlah yang diinginkan oleh Yesus.

Demikianlah, bila kita membandingkan apa yang dikerjakan Yesus dengan apa yang dikerjakan gereja masa kini, kita akan mendapati adanya perbedaan antara tujuan penginjilan Yesus dengan tujuan penginjilan gereja masa kini. Gereja masa kini memberitakan Injil dengan tujuan memperoleh banyak pengikut, tetapi Yesus memberitakan Injil untuk memperoleh murid. Gereja masa kini merasa sudah cukup puas bila banyak orang berbondong-bondong datang ke acara-acara gereja mereka, tetapi Yesus belum merasa puas dengan hal itu. Perbedaan tujuan penginjilan ini tentu juga menyebabkan perbedaan dalam gaya penginjilan keduanya. Yesus menuntut iman dan pertobatan sejati dari mereka yang hendak mengikut Dia, tetapi gereja masa kini hanya meminta mereka mengucapkan doa orang berdosa dan pengakuan percaya kepada Yesus saja. Yesus mengatakan bahwa masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah hal yang sukar dan memerlukan perjuangan keras, tetapi gereja masa kini mengatakan bahwa itu adalah hal yang mudah dan menyenangkan.

Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda memiliki motivasi yang benar dalam mengikut Yesus? Sudahkah anda memiliki motivasi yang benar dalam mengerjakan tugas pelayanan anda? Sudahkah anda memberitakan Injil dengan tujuan dan cara yang benar sebagaimana yang Yesus teladankan?

Facebook Twitter

Kategori: Kehidupan Kristen

Social Media

Menu

Kategori