Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul Paulus Bagian 3

Oleh: Paulus Roi
Senin, 18 Juli 2011

Panggilan dan Tujuan Pelayanan Rasul PaulusSebagaimana telah disinggung pada bagian akhir artikel sebelumnya, jumlah jemaat, penyelesaian masalah hidup, dan keselamatan manusia dari kebinasaan kekal bukanlah tujuan akhir pelayanan rasul Paulus. Dalam Roma 1:5 dia mengatakan bahwa tujuan pelayanannya yang terutama adalah “untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya” atau lebih tepatnya “untuk menghasilkan ketaatan iman di antara segala bangsa demi nama-Nya”. Dengan kata lain, tujuan pelayanan rasul Paulus yang terutama adalah ketaatan iman segala bangsa demi kemuliaan Allah.

Ketaatan iman manusia dan kemuliaan Allah merupakan hal paling utama yang Allah kehendaki dari pelayanan kita dan itu pulalah yang seharusnya menjadi tujuan akhir pelayanan kita. Karena itu, dalam artikel ini kita akan membahas kedua tujuan itu secara lebih seksama.

Ketaatan Iman Manusia

Ketaatan iman merupakan hal utama yang Allah kehendaki dari kehidupan manusia. Ketika Allah menempatkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di tengah-tengah taman Eden, tempat Adam dan Hawa tinggal, dan berfiRoman kepada Adam agar jangan memakan buah dari pohon pengetahuan itu, yang diharapkan-Nya adalah ketaatan iman mereka kepada-Nya. Ia ingin Adam dan Hawa mempercayai bahwa apa yang dikatakan-Nya benar dan dengan demikian juga mentaatinya. Ketika Allah membuat perjanjian dengan bangsa Israel di atas gunung Sinai dan memberikan hukum Taurat kepada mereka, yang diharapkan-Nya dari mereka adalah ketaatan iman kepada-Nya. Ia ingin bangsa Israel percaya bahwa Dialah satu-satunya Allah yang benar, yang telah menuntun mereka keluar dari Mesir, dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Bahkan, ketika Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal ke dalam dunia untuk mati menebus segala dosa manusia, yang diharapkan-Nya juga adalah ketaatan iman umat tebusan-Nya itu.

Allah ingin manusia terbebas dari kuasa dosa yang memperbudak mereka dan yang menghalangi mereka untuk taat kepada-Nya. Ia ingin manusia menyadari dan mempercayai bahwa Ia sungguh-sungguh mengasihi mereka dan telah menyelamatkan mereka dari kebinasaan kekal. Ia ingin manusia mengucap syukur kepada-Nya dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Singkatnya, segala sesuatu yang Allah kerjakan bagi manusia dimaksudkan untuk menghasilkan ketaatan iman kepada-Nya. Karena itu, ketaatan iman harus selalu menjadi focus dan tujuan utama pelayanan kita.

Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan “ketaatan iman”? Dalam pemikiran rasul Paulus iman dan ketaatan memiliki hubungan yang sangat erat. Iman dan ketaatan merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika ia berbicara mengenai iman, yang dimaksudkannya adalah iman yang hidup, yaitu iman yang menghasilkan ketaatan kepada Allah. Dan ketika ia berbicara mengenai ketaatan, yang dimaksudkannya adalah ketaatan yang benar, yaitu ketaatan yang bersumber dari iman kepada Allah. Karena itu, frase “ketaatan iman” yang digunakan Paulus dalam Roma 1:5 pada dasarnya memiliki sebuah makna yang dapat diungkapkan dengan dua kalimat yang berbeda. Frase “ketaatan iman” dapat dijabarkan sebagai “iman yang menghasilkan ketaatan” dan dapat pula dijabarkan sebagai “ketaatan yang bersumber dari iman”.

Jadi, ketika Paulus mengatakan bahwa tujuan utama pelayanannya adalah untuk menghasilkan ketaatan iman, maka yang dimaksudkannya adalah bahwa ia mengerjakan segala tanggung jawab pelayanannya untuk menghasilkan iman yang hidup, yang berbuahkan ketaatan kepada Allah, dan untuk menghasilkan ketaatan yang benar, yang bersumber dari iman kepada Allah.

Kita harus memahami tujuan utama pelayanan ini dengan tepat dan lengkap. Rasul Paulus mengerjakan tanggung jawab pelayanannya bukan sekedar untuk menghasilkan iman, tetapi untuk menghasilkan iman yang hidup, yaitu iman yang berbuahkan ketaatan kepada Allah. Ada iman yang mati, seperti yang dikemukakan oleh Yakobus dalam Yakobus 2:17-26, yaitu iman yang tidak berbuahkan ketaatan. Itu bukanlah iman yang Allah kehendaki, bukan pula iman yang dimaksudkan oleh rasul Paulus. Iman yang Allah kehendaki dan juga dimaksudkan oleh rasul Paulus adalah iman yang berbuahkan ketaatan kepada Allah.

Lalu, kalau tujuannya adalah menghasilkan ketaatan, mengapa rasul Paulus harus bersusah-payah menggunakan frase “ketaatan iman”? Ya, tujuan pelayanan rasul Paulus adalah menghasilkan ketaatan kepada Allah. Akan tetapi, dia juga memahami bahwa ada banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang taat kepada Allah. Hukum atau aturan yang diberlakukan secara legalistic dapat memaksa seseorang taat, tetapi bukan ketaatan semacam itu yang Allah kehendaki. Ketakutan akan murka dan hukuman kekal Allah juga dapat mendorong seseorang taat, tetapi ketaatan semacam itu juga bukan yang Allah kehendaki. Yang Allah kehendaki adalah ketaatan yang bersumber dari iman kepada-Nya. Paulus memahami hal ini dengan baik. Karena itu, dia menggunakan frase “ketaatan iman” untuk menggambarkan tujuan utama pelayanannya.

Surat Roma pun disusun sesuai dengan pemahaman tersebut. Dari pasal 1 sampai 11 Paulus menguraikan dan mengargumentasikan Injil kasih karunia yang harus kita pegang dan percayai. Kemudian, dari pasal 12 sampai 16 dia menguraikan bagaimana kita menerapkan pengajaran yang telah kita percayai itu dalam kehidupan sehari-hari. Perhatikan bahwa pasal 12 dibuka dengan kata sambung “karena itu” yang mengandung pengertian sebab akibat. Dengan menggunakan kata sambung tersebut Paulus seolah-olah hendak berkata: “Hai jemaat di Roma, setelah engkau memahami dan mempercayai Injil kasih karunia Allah yang telah kuuraikan kepadamu, sekarang saatnya bagimu untuk menerapkan Injil itu dalam kehidupan sehari-hari. Janganlah hanya memahaminya dan mempercayainya tanpa menerapkannya, tetapi hendaklah imanmu itu berbuahkan ketaatan. Akan tetapi, ketaatan itu tetap harus dibangun di atas dasar kebenaran Injil yang telah kamu pahami dan percayai itu. Jangan membangun ketaatanmu di atas dasar lain, jangan membangunnya di atas dasar hukum Taurat atau usahamu sendiri, tetapi bangunlah ketaatanmu itu di atas dasar iman kepada Allah yang menganugerahkan kasih-Nya kepadamu.” Iman yang menghasilkan ketaatan dan ketaatan yang bersumber dari iman, itulah dua sisi dari tujuan pelayanan yang harus senantiasa kita perhatikan.

Kita seringkali kurang seimbang dalam memperhatikan kedua sisi tujuan pelayanan itu. Kita yang bergerak di bidang penginjilan seringkali sudah merasa puas bila ada orang yang menjadi “percaya” melalui pelayanan kita. Kita begitu senang dengan kehadiran jiwa-jiwa baru dalam pertemuan-pertemuan ibadah kita tanpa mempedulikan bagaimana kelanjutan hidup kekristenan mereka. Kita memang patut bersukacita bila ada orang yang bertobat dan percaya kepada Yesus. Akan tetapi, kita perlu memahami bahwa pengakuan “percaya” dan kehadiran dalam pertemuan ibadah saja belum membuktikan apa-apa. Memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang bagi Kristus barulah langkah awal yang harus disusul dengan langkah-langkah pemuridan dan penggembalaan berikutnya. Rasul Paulus memahami hal ini. Karena itu, dia juga ingin memberitakan Injil kepada jemaat di Roma yang notabene adalah orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus. Dia ingin memberitakan Injil kepada mereka untuk menguatkan dan mendewasakan mereka sampai iman mereka menghasilkan buah ketaatan kepada Allah (bd. Rom 1:10-13).

Di sisi lain, kita yang bergerak di bidang penggembalaan dan pengajaran seringkali sudah merasa puas bila jemaat yang kita layani memiliki kehidupan yang baik. Kita senang melihat mereka memiliki karakter yang baik dan berjalan dalam “kebenaran” tanpa mempedulikan bagaimana pemahaman mereka terhadap Injil Kristus dan atas dasar apa mereka berbuat demikian. Kita seringkali menjadi begitu fragmatis dengan mengatakan bahwa yang terpenting adalah ketaatan. Asalkan mereka taat dan hidup baik, tidak menjadi masalah bila pemahaman mereka akan Injil keliru. Itulah prinsip yang entah sadar atau tidak sadar kita pegang.

Akan tetapi, tahukah anda bahwa tidak semua ketaatan dikehendaki oleh Allah? Ketaatan yang dikerjakan berdasarkan usaha dan kekuatan diri sendiri bukanlah ketaatan yang dikehendaki oleh Allah. Ketaatan yang dikerjakan tanpa pengenalan akan kebenaran Allah juga bukan ketaatan yang Allah kehendaki. Ketaatan yang Allah kehendaki adalah ketaatan yang didasarkan pada iman dan pengenalan akan kebenaran Allah.

Orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang giat mengerjakan “hukum yang akan mendatangkan kebenaran”, tetapi mereka mengerjakannya berdasarkan usaha dan kekuatan mereka sendiri, bukan berdasarkan iman (Rom 9:31-32). Mereka sungguh giat bekerja bagi Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar (Rom 10:2-3). Tahukah anda apa artinya ketekunan mereka itu di hadapan Allah? Ketekunan itu justru dipandang sebagai ketidaktaatan terhadap kebenaran Allah (Rom 10:3). Ya, tanpa iman dan pengenalan yang benar akan Injil Kristus Yesus, segala perbuatan baik yang kita lakukan tidaklah berkenan di hadapan Allah. Rasul Paulus juga memahami hal ini. Karena itu, sebelum dia mendorong jemaat di Roma hidup dalam kebenaran, dia terlebih dahulu menguraikan isi berita Injil itu kepada mereka.

Demikianlah, iman yang menghasilkan ketaatan dan ketaatan yang bersumber dari iman harus senantiasa menjadi tujuan pelayanan kita. Tanpa ketaatan, iman itu kosong dan mati. Tanpa iman, ketaatan itu bukanlah ketaatan yang benar.

Kemuliaan Allah

Selanjutnya, mungkin ada yang bertanya: “Mengapa ketaatan iman harus menjadi tujuan utama pelayanan kita? Apakah kepentingannya bagi kita dan bagi mereka yang kita layani?” Jawaban saya: Bukan bagi kepentingan kita atau kepentingan orang-orang yang kita layani, melainkan bagi kepentingan Allah. Kemuliaan Allah merupakan tujuan tertinggi (the ultimate goal) dari seluruh pelayanan kita. Kita berupaya menghasilkan ketaatan iman dalam kehidupan orang-orang yang kita layani agar nama Allah dimuliakan.

Dalam Roma 1:5 rasul Paulus menyatakan bahwa tujuan pelayanannya yang terutama adalah untuk menghasilkan ketaatan iman di antara segala bangsa demi nama Allah. Kemuliaan Allah selalu menjadi fokus utama pelayanan rasul Paulus. Dia sungguh-sungguh menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah dari Allah, oleh Allah, dan dimaksudkan bagi kemuliaan Allah (Rom 11:36). Demikian pula dengan pelayanannya. Dia menyadari bahwa karunia kerasulan yang diterimanya itu berasal dari Allah dengan perantaraan Kristus. Dia tidak pernah berusaha mendapatkan kehormatan itu. Dengan senantiasa menyadari kenyataan tersebut dia mengerjakan karunia kerasulannya demi kepentingan dan kemuliaan Allah, bukan demi kepentingan dan kesenangannya sendiri. Dia berjuang keras menghasilkan ketaatan iman di antara segala bangsa agar Allah dimuliakan dan disenangkan.

Sama seperti rasul Paulus, kita seharusnya juga senantiasa menyadari bahwa segala talenta yang kita miliki adalah anugerah Allah. Allah telah mempercayakan karunia dan tanggung jawab pelayanan itu kepada kita. Karena itu, kita pun harus mengerjakannya dengan penuh tanggung jawab bagi kepentingan dan kesenangan Allah.

Akhirnya, kita harus senantiasa menyadari bahwa kasih karunia Allah merupakan sumber dari segala sesuatu yang kita miliki dan dasar dari segala sesuatu yang kita kerjakan. Kita memiliki berbagai talenta tertentu karena Allahlah yang telah menganugerahkannya kepada kita. Kita dapat melayani karena Allahlah yang telah mempercayakan pekerjaan pelayanan itu kepada kita. Bila kita sungguh-sungguh menyadari hal ini, tentu tidak sukar bagi kita untuk senantiasa menjadikan kemuliaan Allah sebagai tujuan dari seluruh pelayanan yang kita kerjakan. Kesadaran akan besarnya anugerah Allah yang telah kita terima akan senantiasa mendorong kita hidup dalam pengucapan syukur kepada Allah bagi kemuliaan-Nya. Dengan demikian seluruh kehidupan pelayanan kita akan senantiasa terfokus pada kemuliaan Allah saja. Soli Deo Gloria!

Facebook Twitter

Kategori: Pelayanan Kristen

Social Media

Menu

Kategori